Belajarlah 3 Hal Ini Dari Si Bengal…

Sebelum masuk ke artikel pertama di blog pribadi ini, saya mau menebak sesuatu terlebih dahulu. Saya mau menebak suatu hal dari diri Anda. Boleh?

Jika boleh, coba saya tebak, Anda adalah orang yang suka belajar, kan? Anda juga termasuk pribadi yang suka membantu orang lain, kan? Anda pun termasuk orang yang suka tersenyum, betul?

Sudah, sudah.. Anda tak perlu tersenyum lagi. Semoga rezeki Anda makin banyak dan berkah, ya.. 🙂

Lanjut, ya…

Coba Anda ingat-ingat kembali. Sadarkah Anda bahwa sewaktu masa-masa sekolah jaman dulu Anda memiliki kawan-kawan yang bisa dikategorikan (maaf) sebagai anak-anak yang bengal? Anak-anak nakal? Ingat?

Saya yakin, setiap orang memiliki kawan yang menurutnya baik dan menurutnya nakal. Penilaian itu bukan hal yang saklek, karena boleh jadi kawan-kawan Anda masih dalam masa labil. Masih mencari jati diri terbaiknya. Bahkan mungkin malah belum tahu jika mereka harus menentukan prinsip hidup sebagai modal hidup di masa depannya. Bisa jadi, Anda pun juga mengalami kelabilan yang sama. Saya pun juga merasakannya. Anda tak sendirian. Hehehe..

Ngomong-ngomong tentang kawan yang bengal, saya ingat betul bagaimana masa SMA waktu itu. Saya menjalani masa SMA sebagai anak yang pendiam (cenderung penakut dan pemalu). Asiknya, ketika naik kelas tiga saya masuk jurusan IPS. Jurusan yang dipandang oleh masyarakat sebagai kumpulan anak-anak yang “spesial”.

Kondisi itu berkebalikan dengan kepribadian saya yang pendiam, penakut dan pemalu. Duar!!!

Sebuah mimpi buruk seakan datang menyapa saya dengan sangat nyata. Mau tak mau, saya harus berkumpul dengan kawan-kawan yang “spesial” tadi. Walaupun pandangan masyarakat tak bisa dipukul rata bahwa semua anak IPS sebegitu “spesialnya”.

Uniknya, ketika itu saya melihat pelajaran yang berharga. Saya mulai menekuni profesi sebagai pengamat sosial. Saya belajar dari kawan-kawan saya yang dicap “spesial” oleh beberapa orang, termasuk bapak-ibu guru. Saya menyadari, ternyata mereka memang benar-benar spesial. Mereka telah mengajarkan sesuatu yang sangat berharga kepada saya.

Saya diberi kesempatan oleh Allah untuk bergabung dengan kawan-kawan yang dikata masyarakat sebagai anak nakal. Alhamdulillah hal itu sangat saya syukuri. Sebagai seorang yang pendiam, penakut dan pemalu, saya belajar hidup dari si bengal. Saya mendapat keuntungan nyata, Alhamdulillah.

* Keberanian

Saya mulai belajar menjadi seorang yang nakal. Iya, saya belajar menjadi bengal. Saya memutuskan untuk mulai berani bertanya kepada guru di kelas. Sebelumnya saya memang sangat menghindari bertanya atau sekedar mengutarakan pendapat kepada guru karena getaran hebat sangat kentara saya rasakan.

Saya amati, kawan saya yang bengal ternyata sangat berani dalam berpendapat, bahkan di depan banyak orang di kelas kecil kala itu. Sedangkan saya, mati kutu. Takut bersuara. Gemetaran hebat.

Saya pikir, kalau mereka saja mampu seperti itu, masak iya saya kalah? Masak iya, saya tak mampu bersuara? Jujur, saya tak mau menghabiskan sisa hidup saya dalam kesuraman masa depan. Saya ingin berbenah, saya ingin berubah.

Pertanyaan sederhana tadi berkeliling di dalam benak saya. Meskipun suara saya pun tak sejernih vokalis-vokalis ternama papan atas di Indonesia, tapi saya ingin berani mengemukakan isi kepala saya. Saya ingin berani bersuara, menyatakan pendapat saya.

** Percaya Diri

Selain unsur keberanian, saya juga belajar dari si bengal tentang kepercayaan diri. Mereka yang nakal, saya amati mereka punya kecenderungan rasa percaya diri yang tinggi. Efek sampingnya mereka terlihat sombong.

Orang dengan kadar kepercayaan diri yang bagus memiliki pembawaan diri yang bagus pula. Alhasil, perilaku atau perkataan yang mereka sampaikan bisa mempengaruhi orang lain. Lepas dari apa yang mereka sampaikan itu benar atau salah, orang dengan kepercayaan diri yang bagus ternyata lebih mudah dipercaya orang lain.

Logika sederhananya, ketika kita tidak percaya pada diri sendiri, bagaimana kita bisa dipercayai orang lain. Bagaimana kita bisa mempengaruhi orang lain. Betul?

*** Kreatifitas

Lalu, terkadang keisengan kawan membuat saya berpikir, wah, ternyata kawan saya sebegitu kreatif ketika menjahili kawan yang lain. Keusilan mereka sangat bervariasi. Saya belajar tentang unsur kreatifitas di sana, bagaimana si bengal memutar otak dalam menyuguhkan hiburan bagi kawan-kawan sekelas yang lain.

Belajar menjadi bengal ternyata metode yang lumayan ampuh dalam perubahan hidup saya. Dari si bengal, saya belajar tentang keberanian. Dari si nakal, saya belajar tentang kepercayaan diri. Dari si usil, saya belajar tentang kreatifitas.

Metode ini tak selalu cocok untuk dilakukan. Bisa jadi kondisi saya dengan Anda berbeda. Jadi, efeknya pun akan berbeda pula. Anda bisa jadi berubah lebih percaya diri, lebih berani dan lebih kreatif, atau bisa juga Anda makin terjerumus ke dalam lembah kebengalan yang berdampak negatif bagi kehidupan Anda. Jika kondisi ke-2 yang terjadi, bukankah itu mengerikan?

Jika Anda masih remaja, belajarlah dari si bengal mengenai 3 hal tadi, bahkan mungkin bisa lebih, namun pakailah agamamu untuk menyaring “menu” yang si nakal suguhkan kepada Anda. Jangan sampai Anda terbawa arus hingga menjadi bengal seumur hidup.

Mengutip sebuah kalimat bijak, “penyesalan selalu datang di akhir, karena yang datang duluan namanya pendaftaran.” Hehehe..

Ingatlah bahwa suatu ketika nanti Anda berkeluarga, tentu Anda mengharapkan pasangan hidup yang ta’at dalam beragama, pasangan yang baik. Apabila Anda telah berkeluarga, tentu Anda berharap dianugerahi anak yang shaleh dan shaleha, dan hidup berkecukupan untuk anak-cucu hingga akhir hayat menjemput Anda. Betul begitu, kan?

Maka persiapkanlah masa depan Anda dan keluarga sebaik mungkin. Saya ingat petuah guru saya, Mas Saptuari Sugiharto (Penggagas Gerakan Sedekah Rombongan):

“Setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah, setiap saat adalah waktu untuk belajar.”

Teruslah bertumbuh-kembang menjadi pribadi yang semakin baik. Habiskan waktu Anda untuk mengasah keahlian dan potensi Anda.

Fokuskan pada pembelajaran untuk meningkatkan keahlian Anda. Jika proses belajarnya lancar dan benar, efeknya bisa berimbas pada peningkatan rezeki yang Anda peroleh. Tak lupa, bersyukurlah pada Allah SWT atas hidup yang telah DIA karuniakan untuk Anda.

Sukses berkah selalu untuk Anda. 🙂

* * *
Sumber gambar: brainconnection.brainhq.com

* * *

Langganan Artikel

Selain artikel, saya juga membagikan info mengenai edukasi bisnis, pengembangan diri dan penawaran menarik. Masukkan nama dan email Anda di sini.

Powered by Kirim.Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *