Biarkan Data Riset yang Bicara

Membahas bisnis berarti berkaitan erat dengan data. Mengapa demikian? Karena bisnis yang dimulai dengan data memiliki peluang lebih mudah dijalankan daripada bisnis yang asal jalan karena keinginan.

Berencana bisnis hijab, lakukan riset mengenai data pencarian hijab di Google dalam kurun waktu kira-kira 5 tahun terakhir. Perhatikan dinamika perkembangan video maupun artikel mengenai tutorial memakai hijab dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.

Simak pula display produk terlaris di halaman marketplace, apakah hijab muncul di sana atau tidak, jika ada hijab maka cari tahu hijab motif apa yang paling banyak dicari muslimah.

Prinsip dasar yang sama dapat diterapkan ketika berencana membuka bisnis seperti baju, rok, celana, kuliner, jasa konsultan, maupun mukena.

Bisnis berlandaskan data lebih mudah diukur. Data berperan memudahkan evaluasi jalannya bisnis saat ini dan memudahkan perkiraan model produk seperti apa yang kira-kira disukai pasar di masa mendatang.

Tentunya bisnis yang berjalan identik dengan promosi. Produk yang dijual pun butuh dipasarkan. Edukasi produk kepada target market harus dilakukan karena tujuannya penjualan.

Ketika market yang disasar sudah tertarget dengan kriteria tertentu, cara promosinya pun harus tepat. Jika tidak, maka arah promosinya meleset.

Salah satu cara promosi dapat dilakukan melalui internet. Entah video atau artikel edukasi.

Jangan lupa untuk menyesuaikan artikel edukasi yang dicipta dengan target market. Jika tidak, ya itu tadi, meleset.

Pastikan isi artikel dibutuhkan target market. Jika tidak tahu sedalam apa kebutuhan target market, lalu bagaimana mereka tertarik? Jika tidak tertarik bagaimana mereka akan membaca artikel kita?

Sebagai seorang pemasar, jangan lupa menyisipkan edukasi terkait produk kita di dalam tulisan. Istilah kekiniannya covert selling.

Pemasar yang memainkan media sosial tentu takkan membiarkan isi statusnya berisi keluhan atau bahkan hoax. Pemasar yang cerdas memprioritaskan edukasi produk yang ia jual daripada egonya sendiri.

Mau posting keluhan, ia alihkan dalam bentuk tulisan bersudut pandang keluhan cerdas atas permasalahan tertentu lalu diarahkan ke pengenalan produk yang ia jual. Ia memainkan sudut pandang promosi.

Ketika seorang pemasar sedang marah atas situasi tertentu, boleh jadi ia terinspirasi untuk membuat promosi yang bersudut pandang emosi marah namun santun untuk dibaca. Lagi-lagi audiensnya jadi paham atas produk yang ia kenalkan melalui status media sosialnya.

Saya belajar banyak hal dari para pemasar yang paham dalam mengolah beragam sudut pandang promosi. Entah berdasar hal yang temanya berkaitan dengan produk, atau berdasar hal yang sama sekali tidak relevan namun ujungnya berjualan.

Seperti misal contoh sudut pandang promosi antara jalan kaki dan mukena. Secara langsung apakah berkaitan?

Hehehe…
Iya, saya paham keduanya tidak berhubungan langsung.

Tapi coba simak penjelasan ini.

Saya sedang merutinkan olahraga yang sederhana, yakni jalan kaki bersama sahabat saya, Fahmy Arafat dan Muhammad Nurul Hilal.

Jalan kaki merupakan olahraga sederhana yang dilanggengkan Mahatma Gandhi. Jalan kaki begitu mudah dan murah untuk dilakukan. Tinggal jalan saja, selesai. Di samping itu, aktifitas jalan kaki juga berdampak bagus untuk kesehatan.

Menurut riset yang dilakukan oleh peneliti Universitas Stanford Amerika Serikat yang menggunakan data menit per menit dari 700.000 orang melalui aplikasi pemantau aktifitas Argus pada smartphone. Total negara dalam penelitian tersebut berjumlah 46 negara.

Penduduk Hongkong tercatat rata-rata berjalan kaki sebanyak 6.880 langkah setiap hari, sedangkan penduduk Singapura menempati peringkat ke sembilan dari 46 negara dengan mencatat rata-rata 5.674 langkah per hari, dan ternyata penduduk Indonesia hanya mencatatkan 3.513 langkah per hari. Penduduk Indonesia menempati posisi terbawah.

Berdasarkan riset tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa penduduk Indonesia paling malas dalam berjalan kaki dibanding penduduk Hongkong. Hal tersebut sangat disayangkan. Mengapa? karena aktifitas berjalan kaki mengandung manfaat sebagai berikut:
– Memperbaiki fungsi otak
– Lebih sehat jika dikombinasikan dengan pola makan sehat
– Memperlambat proses penuaan
– Mengurangi resiko penyakit jantung
– Meningkatkan sirkulasi darah dalam tubuh
– Berjalan kaki menurunkan risiko patah tulang (riset di sebuah rumah sakit di Boston)
– Berjalan kaki mencegah pengeroposan tulang
– Berjalan meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas otot

Berdasarkan riset baru mengenai manfaat jalan kaki di situs manfaatjalankaki.com, berikut daftarnya:
1. Menambah tenaga
2. Pencegahan Diabetes Tipe Dua
3. Otak jadi sehat
4. Tulang jadi kuat
5. Jantung jadi sehat

Berkaitan dengan posisi tubuh yang baik dan ideal ketika berjalan kaki, berikut poinnya:
– Tubuh tegak lurus, tidak lesu
– Bahu dengan posisi tegap dan tak terbungkuk ke muka/depan
– Angkatlah sedikit dagu, jangan menunduk
– Arahkan pandangan ke depan, tertuju pada objek yang jauh sekitar 3 sampai 6 meter.

Nah, setelah mengetahui data riset dan manfaat berjalan kaki, apakah kita rela melewatkannya?

Yakin? Hehehe.

Lalu muncul pertanyaan: “..dan kaitan antara olahraga berjalan kaki dengan mukena itu apa, Mas?”

Jadi, kaitan keduanya seperti ini.

Salah satu manfaat dari aktifitas ringan melalui olahraga berjalan kaki meningkatkan tenaga. Boleh cek kembali daftar manfaat di atas.

Ketika tenaga saya bertambah, maka produktifitas saya pun meningkat. Saya dapat menghasilkan artikel yang memuat edukasi berdasarkan masalah sosial serta menyisipkan edukasi produk mukena saya, yaitu Mukena Larizka.

Muslimah Indonesia tahu bahwa mukena adalah salah satu pakaian ibadah yang biasa digunakan penduduk Indonesia. Jadi, saya tidak perlu menjelaskan mukena itu apa.

Namun, saya perlu menunjukkan arah bahwa situs resmi Mukena Larizka ada di www.LARIZKA.com. Kalau suka bermain Instagram, silakan kunjungi instagram.com/MukenaLarizka.

Bahkan kalau merasa nyaman berada di Facebook, boleh mengunjungi Facebook.com/MukenaLukisLarizka.

Saya sengaja mengarahkan ‘contoh sudut pandang promosi antara jalan kaki dan mukena’ di awal artikel. Hal tersebut bertujuan untuk membuat pembaca bertanya apakah kedua hal tersebut tidak berhubungan secara langsung atau ternyata dapat berkaitan, jika berkaitan lalu bagaimana kaitannya.

Artikel ini membangun rasa penasaran pembaca. Secara psikologis, orang penasaran butuh pembuktian. Faktanya, tulisan ini dilahap hingga habis.

Jika sudah mengetahui kemana arah artikel ini, tak perlu tersenyum begitu. Hehehe.

Selamat berjualan.

Pekalongan, 18 September 2017 pukul 11:43 WIB
Salam hangat untuk UKM Indonesia,

Muhammad Nurul Hakim
www.HakimJASA.net

___________
Referensi:
– http://internasional.kompas.com/read/2017/07/12/12200851/survei.di.seluruh.dunia.orang.indonesia.paling.malas.berjalan.kaki
– http://sains.kompas.com/read/2017/07/25/090700623/dilema-jalan-kaki-di-indonesia-dan-dampaknya-pada-kesehatan
– https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150831104021-255-75613/jalan-kaki-25-menit-tiap-hari-perpanjang-umur-tujuh-tahun/
– https://www.dokter.id/berita/penelitian-yang-menunjukkan-manfaat-berjalan-kaki
– http://manfaatjalankaki.com/riset-baru-manfaat-jalan-kaki-terlengkap.html
– https://books.google.co.id/books?id=JUlirhy2iIQC&lpg=PA75&dq=mahatma%20gandhi%20jalan%20kaki&pg=PA342#v=onepage&q=mahatma%20gandhi%20jalan%20kaki&f=false

* * *

Langganan Artikel

Selain artikel, saya juga membagikan info mengenai edukasi bisnis, pengembangan diri dan penawaran menarik. Masukkan nama dan email Anda di sini.

Powered by Kirim.Email

One thought on “Biarkan Data Riset yang Bicara”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *