January 1, 2018 hakimjasa 0Comment

Artikel ini saya tulis untuk mengingatkan diri saya sendiri.

Apabila terdapat kesamaan pengalaman dan pemikiran, maka itu takdir Allah.

Oke, saya akan mulai dari sini…

Jangan disangka seorang blogger tak pernah merasakan mental block dalam membuat karya tulisnya.

Secara umum, mental block melanda setiap manusia. Namun, mereka yang bertahanlah yang berhasil naik kelas. Lolos dari jebakan hidup bernama mental block.

Berkaitan dengan perjuangan seorang blogger, berikut ini beberapa hal yang dirasakan seorang blogger:

  1. Bingung mau menulis apa, padahal sudah di depan laptop.
  2. Baca artikel di blog lain, ke sana-sini, berniat mencari inspirasi tulisan, eh, masih mentok juga.
  3. Sudah mengetik kata demi kata, paragraf demi paragraf, tapi berantakan susunannya. Nggak nyambung. Hapus lagi. Ketik lagi. Hapus lagi.
  4. Bikin teh atau kopi hangat agar tubuh dan pikiran rileks. Berharap setelah itu akan lancar menulis artikel.

Fakta yang terjadi di lapangan adalah:
Bingung, bingung dan bingung, mau menulis apa.

Bahkan sampai tidur lalu bangun berharap ada inspirasi, namun tetap saja mentok.

Kadang kita lupa bahwa ada aktifitas yang terlewatkan. Secepat kilat menyalahkan mental block yang melanda diri, padahal kita melupakan konsumsi informasi.

Untuk membuat sebuah karya tulis yang baik, kita membutuhkan asupan informasi yang bergizi, prinsip agama bahkan norma sosial dan tentunya latihan menulis setiap waktu.

Menulis tanpa rutin mengonsumsi informasi bergizi, maka yang menyertai adalah kebingungan mencipta artikel. Ada keinginan menulis namun bingung kala menuangkan ke dalam bentuk kalimat.

Menulis tanpa memiliki prinsip agama yang dipegang teguh dapat melahirkan kreator artikel penuh tipu daya. Tak peduli dosa yang didapat karena menyalahi aturan agama, yang penting ada keuntungan materi yang diperoleh.

Menulis tanpa memperhatikan norma sosial juga membahayakan diri. Tak peduli efek negatif yang timbul di masyarakat, yang penting ada keuntungan pribadi yang diperoleh.

Menulis tanpa rutin mengasah kemampuan menulis setiap waktu juga berdampak negatif. Kemampuan yang jarang dilatih, maka lama-kelamaan akan sirna.

Lupakan prestasi terbaik dengan meninggalkan warisan berupa karya tulis kebaikan jika kita tak pernah mau merutinkan diri menulis setiap hari.

Jaman now begitu enak. Aplikasi social media banyak bermunculan. Banyak media untuk berlatih menulis.

Izinkan saya bercerita tentang sekeping masa lalu saya.

Dulu di era tahun 2000an, saya belajar membuat karya tulis fiksi menggunakan tools bernama mesin ketik. Sangat personal. Tak ada orang tahu mengenai apa yang saya tulis waktu itu, kecuali telah saya tunjukkan kepada orang lain dan penerbit.

Waktu itu saya suka melahap informasi dari Majalah Bobo dan Tabloid Fantasi. Ketertarikanku ada pada cerita fiksi pada waktu itu. Saya suka baca cerita.

Saya menikmati masa kecil dengan bacaan komik. Semakin besar, saya pilih membaca cerita di majalah. Setiap pekan saya selalu antusias menantikan edisi majalah terbaru.

Bacaan fiksi membuatku tergelitik untuk menuliskan karya fiksi juga. Waktu itu mesin ketik ayah masih fit untuk diajak berjuang. Lahirlah karya-karya perdanaku melalui benda antik bernama mesin ketik.

Awalnya saya hanya mengetik satu lembar untuk setiap karya tulisku. Tak ada salinan lain, kecuali harus pergi ke tempat fotokopi. Kemudian datanglah sebuah saran untukku menggunakan kertas karbon. Sekali ketik langsung punya salinannya, tanpa perlu repot pergi ke tempat fotokopi. Setidaknya menghemat beberapa ratus rupiah untuk hobi menulisku.

Masalah lain muncul ketika saya mengetik terlalu cepat dan membuat kesalahan ketik. Kesalahan pada lembar kertas pertama pasti tercetak pada lembar kedua. Yes, kepastian cetak itu berasal dari kertas karbon yang saya pasang. Kalau masih untuk latihan, saya menggunakan tipe-x untuk menutup kesalahan ketik.

Solusi terbaik pada saat itu adalah saya tidak boleh melakukan salah ketik. Saya perlu persiapan yang matang sebelum mengetik cerita.

Yang namanya latihan, selalu ada kesalahan. Sekecil apapun itu. Tapi latihan harus terus dilakukan.

Pada saat itu saya tidak menyadari bahwa saya sedang melatih diri untuk menulis. Yang ada di kepalaku adalah mengarang, membuat cerita, lagi, lagi, dan lagi.

Dunia fantasi yang ada di kepala, saya ungkapkan di lembar demi lembar kertas. Menulis cerita fiksi butuh khayalan tingkat tinggi, karena karya fiksi bukan kisah nyata.

Menariknya, saya tergila-gila membuat cerita. Satu kisah selesai, lalu ku pikirkan kisah berikutnya. Yang ku ingat jelas cerita yang ku buat waktu itu bertokohkan Alidin. Terinspirasi dari tokoh Aladin namun dengan sentuhan berbeda: Ali, jadilah Alidin. Cerita yang saya buat tentang Alidin ada beberapa jumlahnya, menjadi cerita serial tentang misteri.

Detektif Conan, komik detektif membuatku begitu bahagia di kala itu. Saya tergerak untuk ikut membuat karya tentang keterkaitan detektif dan misteri yang harus diungkap.

Cerita berikutnya berjudul Misteri Rumah Tua. Setelah cerita tersebut jadi, saya kirimkan ke Majalah Bobo. Nahas, beberapa edisi Majalah Bobo berikutnya saya lewatkan karena sesuatu hal. Saya lupa tepatnya kenapa. Pada saat saya tidak membeli Majalah Bobo, saya sempat melihat cover Majalah Bobo terbaru bertuliskan Cerpen Misteri Rumah Tua.

Waw! Kok sama judul cerpennya!

Saya sampai gelisah. Berharap mendapatkan hadiah karena mengira cerpen karyaku dimuat di Majalah Bobo. Minggu berganti minggu, tak ada Bapak Pos yang datang ke rumah. Ternyata hal itu memang harapanku semata. Bukan kejadian sebenarnya. Boleh jadi, ada pekarya lain yang memberi judul yang sama dengan judul cerpen yang saya buat.

Pernah juga di lain kesempatan, saya kirim cerpen fiksi ke Majalah Bobo dan mendapat balasan surat beberapa pekan berikutnya. Amplop coklat besar seukuran kertas A4 / Folio.

Begitu saya buka isinya, ternyata naskah cerpen yang saya kirim tempo lalu. Wow!

Naskahku dikembalikan. Ada bonus secarik kertas berisi masukan dari tim Majalah Bobo untukku. Intinya, cerpen fiksi saya belum memenuhi standar untuk dimuat di Majalah Bobo.

Setelah mengirim berkali-kali cerpen ke media cetak, seingatku baru kali itu saya memperoleh surat balasan yang berisi saran.

Waktu itu saya menyerah untuk mengirimkan karya ke media cetak lagi. Karyaku belum pernah memenuhi standarisasi sang media cetak.

Waktu berlalu.

Aplikasi chatting mulai mewabah. Platform yang saya coba pertama kali di warnet adalah mIRC. Pernah main juga? Berarti harusnya sudah menikah, ya… Hehehe…

Berlanjut ke aplikasi chatting di smartphone seperti Mig33, Mxit, Ebuddy, Nimbuzz sama Yahoo Messenger. Booming banget sederet platform ngobrol lewat ponsel Java waktu itu.

Kegemaranku menulis tersalurkan melalui media-media itu. Yah, walaupun tulisannya cuma obrolan, bukan cerpen lagi. Yang penting menulis.

Sampai muncul platform socmed terbooming Friendster. Ada fitur untuk menyimpan catatan di Friendster. Jadilah saya mulai menulis fiksi lagi.

Ku ingat-ingat, saya mulai aktif Friendster sejak SMA. Berlanjut ke awal kuliah tahun 2006. Inspirasi tulisan saya waktu itu berdasar buku-bukunya Raditya Dika.

Orang jawa tulen yang medok ini berlagak menulis tokoh cerita yang kalau ngobrol bilangnya gue-elu. Saya terpapar karya-karya Raditya Dika yang notabene anak gaul Jakarta yang pas pakai panggilan itu.

[Bersambung…]

 

Salam hangat,

Muhammad Nurul Hakim
www.hakimjasa.net

* * *

Langganan Artikel

Selain artikel, saya juga membagikan info mengenai edukasi bisnis, pengembangan diri dan penawaran menarik. Masukkan nama dan email Anda di sini.

Powered by Kirim.Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *