September 1, 2016 hakimjasa 0Comment

Ledakan pengguna internet belakangan ini menggila. Seorang pembelajar yang baru saja masuk ke dunia digital, sudah bisa mengklaim dirinya MASTAH.

Anak muda-mudi berlimpah materi mulai bermunculan. Materi berlimpah didapat dengan relatif mudah melalui ketak-ketik status di media sosial.

Ada sebuah fenomena mengenai seorang remaja yang dianggap sukses oleh masyarakat digital. Sukses tembus omset ratusan juta per bulan.

Awalnya belajar hal sederhana, dia praktek, lalu berhasil. Tembus omset jutaan rupiah dalam waktu singkat. Tembus profit jutaan rupiah secara instan.

Ketika sebagian orang berjuang susah payah mendapatkan penghasilan dari beriklan di sosial media, sebagian yang lain berhasil mencapai omset di angka jutaan, belasan juta, bahkan ratusan juta dengan sekali-dua kali promosi saja. Rezeki tak tertukar, rezeki tak tertakar. Rezeki unlimited. Tanpa batas.

Praktek teknik pertama begitu memuaskan hati, berlanjutlah dia belajar teknik copywriting. Teknik menulis promosinya mulai meningkat semakin terasah. Skill persuasinya semakin tajam. Dia mudah mempengaruhi orang yang tak tertarik produknya sedikitpun berubah menjadi tertarik, bahkan segera membeli produknya.

Praktek teknik copywriting berhasil, rasa puas muncul di hatinya.

Screenshot hasil closingnya diunggah ke akun sosial media. Mulailah mengompori kawan-kawan lain agar terjun juga di dunia digital. Kata dia, sayang kalau tak memanfaatkan kehebatan internet. “Kalau nggak nyari duit di internet, rugi banget, Bro!”, begitu celotehnya.

Gaya menulisnya mulai sok-sokan. Sudah berasa hebat. Sudah berasa MASTAH. Boleh jadi, dia tidak sadar bahwa dia sedang menunjukkan: “ini lho saya, berhasil sukses meraup jutaan rupiah dari internet doang.”

Bisa jadi dia tak sadar bahwa dia sedang unjuk kekuatan, personal powernya diumbar. Bahkan beberapa kawan mulai ilang feeling dengan dia. Sebagian kawan mungkin berpikir: “ini anak sombong amat. Baru aja sukses udah takabur.”

Astaghfirullah..

winner-1013979_960_720

SILATURAHIM TERGADAIKAN
Bahkan miris, silaturahim secara langsung rela digantikannya dengan aplikasi BBM, Whats App, Line, Path dan semacamnya.

Aplikasi messenger diklaim sebagai pengganti silaturahim, yang dapat mendekatkan yang jauh. Namun faktanya, aplikasi tersebut bisa menjauhkan yang dekat. Terkadang dia dan kawannya duduk bersebelahan namun sama-sama sibuk dengan ponsel pintarnya masing-masing.

Boleh jadi dia lupa bahwa kelak ketika dia meninggal, orang-orang terdekatnya yang mengantarkan sampai ke liang kuburnya. Rumah menuju alam berikutnya. Kenalannya di sosial media, bisa jadi hanya mengirimkan pesan: “Semoga dosa-dosamu diampuni Allah, dan mendapat tempat terbaik di sisiNYA ya, Bro…”

Seorang guru pernah mengatakan bahwa kematian adalah nasehat terbaik.

Tarik nafas dalam-dalam.

Hembuskan perlahan.

Semoga dengan mengingat mati, maka kita siap merenungi kehidupan kita saat ini. Kita tahu apa yang perlu kita lakukan. Jika masih bingung, tanyakan pada hati kecil kita.

Berkacalah pada cermin yang besar dan bening, boleh jadi si remaja yang saya ceritakan adalah orang yang berada di hadapan kita saat ini. Siapapun bisa menjadi tokoh si remaja sukses tadi. Mungkin si tokoh tadi adalah kita.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Jika tak bermanfaat, tak perlu dibagikan kepada sahabat terbaik kamu. 🙂

Salam,

Muhammad Nurul Hakim
Penulis www.HakimJASA.net

Sumber gambar : google.com

* * *

Langganan Artikel

Selain artikel, saya juga membagikan info mengenai edukasi bisnis, pengembangan diri dan penawaran menarik. Masukkan nama dan email Anda di sini.

Powered by Kirim.Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *