Orangtua, Anak dan Pekerjaan di Indonesia

Bismillah…

Berdasarkan pengalaman pribadi, seorang mahasiswa di akhir masa kuliahnya biasa mendapat pertanyaan semacam ini:

“Anaknya Bu Dewi udah lulus, lho.. Kamu kapan?”

Lalu…

“Habis lulus, kamu mau kerja dimana?”

“Ada lowongan PNS tuh, coba apply, deh…”

Pertanyaan semacam itu mirip seperti pertanyaan orang-orang kepada jomblo seperti:

“Kamu udah punya calon, kan? Anak mana? Kerjaannya apa? Jangan lupa bibit, bobot, bebetnya, lho…”

Atau…

“Kapan nikah?”

DUARRR!!!

Kerasa, kan. Begitu mengerikan. Hehehe…

Oke, stop. Artikel ini bukan untuk membully jomblo, tapi bertujuan membuka mata kita tentang sesuatu hal.

Yuk, simak selengkapnya…

Baik, lanjut ya…

Sebagian masyarakat Indonesia masih beranggapan bahwa aktifitas seorang lulusan sekolah identik dengan bekerja di tempat orang lain. Apalagi seorang sarjana.

Anda mengalaminya sendiri?

Tak apa, Anda tidak sendiri. Banyak orang di luar sana yang mengalami hal serupa, seperti halnya saya.

Orangtua yang berprofesi sebagai karyawan, biasanya mengharapkan sang anak ketika lulus dari pendidikan formalnya, maka segera mendapatkan pekerjaan yang layak.

Sang anak sudah disekolahkan hingga level perguruan tinggi, orangtua rasanya tak rela jika keilmuannya tak digunakan pada bidang pekerjaan yang relevan, terutama PNS dan pekerja kantoran.

Pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil atau pekerja kantoran seakan menjanjikan ketentraman bulanan.

Gaji tetap, kenaikan gaji setiap tahun, jaminan sosial, kenaikan jabatan dan lain-lain menjadi daya tarik tersendiri bagi orangtua.

PNS ternyata menjadi pekerjaan idola orangtua di Indonesia, boleh cek artikel di Hipwee ini:

Bagaimanapun orangtua ingin sang anak tak bingung mencari rezeki bulanannya, terlebih untuk anak laki-laki yang notabene kelak menjadi pemimpin rumah tangga. Orangtua tak rela jika tetangga membicarakan hal buruk tentang anaknya. Contoh:

“Eh, putranya si Ibu Fulanah kerjanya apa, sih? Udah jadi sarjana tapi kok masih santai-santai aja di rumah?”

Obrolan yang dimulai dari pertanyaan semacam itu menjadi momok menakutkan bagi orangtua.

Apalagi ketika berhadapan dengan calon mertua si anak. Kalau pekerjaan sang anak tidak seperti orang pada umumnya, orangtua khawatir jika kelak berdampak pada kehidupan rumah tanggan sang anak dengan pasangan dan mertuanya.

Kekhawatiran seperti itu wajar, kan?

Yes.

Justru ketika sang orangtua (maaf) tidak mengkhawatirkan kondisi anaknya, boleh jadi layak dipertanyakan sedalam apa kasih sayangnya kepada sang anak. Wallahu a’lam.

Era Kekinian

Ketika era internet telah merajalela seperti saat ini. Ternyata banyak pekerjaan baru bermunculan.

Profesi di masa lalu yaitu guru, PNS, petani, penjual toko kelontong, bankir misalnya. Kini muncul profesi baru seperti penjual online, internet marketer, youtuber, blogger, travel blogger, terapis by phone dan banyak macam lainnya.

Perubahan zaman tak terelakkan. Kita perlu mempelajarinya, kita perlu mengambil sikap bijak apakah perlu menyatu atau tetap konsisten apa adanya di tengah perubahan zaman yang cepat.

Skill teknis hampir selalu diperlukan dalam setiap pekerjaan. Apakah itu pekerjaan kantoran atau pengusaha.

Ketika berada pada level tertentu, kemampuan teknis tidak terlalu diperlukan seorang pekerja kantoran, ia dapat mendelegasikan pekerjaan teknis kepada bawahannya. Begitu juga untuk profesi pengusaha, ia perlu mendidik karyawannya untuk mengerjakan sesuatu yang bersifat teknis agar ia dapat berfokus pada pengembangan usaha.

Nah, untuk mengikuti perkembangan zaman ini, saya belajar nge-vlog.

Yuk kenalan dengan Mbak Faray Soraya sang empunya usaha Bubur Bayi MyBaby.

Vlog perdana ini saya dan istri sengaja mampir ke gerai bubur bayi Mbak Faray untuk berbincang singkat.

Saya dan istri sedang membangun bisnis Mukena Larizka. Kami belajar banyak hal terkait bisnis dari kawan-kawan kami.

Yuk, simak Vlog 3 menitan ini:

Silakan tambahkan pertemanan Anda dengan Akun Facebook Mbak Faray, klik di sini.

Silaturahim offline memang menyenangkan. Saudara-saudari bertambah, ilmu pun bertambah atas izin Allah.

Skill teknis dalam memasak bubur dan menyajikan kepada pembeli telah dikuasai Mbak Faray. Bahkan telah diajarkan juga kepada karyawan-karyawannya. Pendelegasian pekerjaan bertahap.

Kita dapat mengambil pelajaran berharga dari obrolan singkat dengan Mbak Faray, bahwa ternyata kita tak boleh meremehkan dunia wirausaha. Meskipun sesederhana membuat bubur bayi lalu menjualnya.

Kalau menyoroti penghasilannya, maka tinggal dikalikan saja, kira-kira berapa rupiah dalam sehari yang didapatkan beliau. Bukan untuk menghitung berapa rezeki yang beliau dapat, karena kita takkan mampu.

Rezeki tak sesempit rupiah semata, namun kebahagiaan yang didapat seorang Mbak Faray ketika melihat bayi-bayi menjadi lebih sehat ketika mengonsumsi bubur bayi buatannya tak mudah diukur oleh perasaan kita.

Bayi-bayi yang telah mengonsumsi bubur bayi buatan Mbak Faray ternyata telah bertumbuhkembang menjadi seorang anak yang sehat. Itu pun bagian dari rezeki yang diperoleh seorang pengusaha bubur bayi.

Apapun profesi halal kita, maka upayakan keberkahan selalu mendampingi aktifitas kita.

Tak apa orangtua mengharapkan anaknya menjadi seperti yang beliau inginkan. Boleh jadi saat ini kita berontak terhadap keinginan orangtua, namun kelak ketika kita menjadi orangtua, mungkin kita baru memahami mengapa beliau melakukan hal tersebut.

Yuk tebar kebaikan, tebar ketulusan, membantu banyak orang melalui produk yang kita sediakan.

Yuk muliakan orangtua kita. Sekarang juga. 🙂

Pekalongan, 30 Oktober 2017
Pukul 10:54 WIB

Salam hangat untuk para orangtua asli Indonesia,

Muhammad Nurul Hakim
www.HakimJASA.net

* * *

Langganan Artikel

Selain artikel, saya juga membagikan info mengenai edukasi bisnis, pengembangan diri dan penawaran menarik. Masukkan nama dan email Anda di sini.

Powered by Kirim.Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *