Pengusaha Jangan Baper Dengan Hal Ini…

Seorang bijak pernah mengatakan bahwa dunia wirausaha bukan ditujukan untuk orang-orang lemah, tapi khusus untuk orang-orang yang mampu bertahan dan mau memperjuangkan tujuan bisnisnya.

Sebagian pengusaha (muda) terkadang masih mudah terbawa emosi alias baper. Produksi terhambat karena hal teknis, ia baper. Jualan hampir closing, tapi ditungguin pembeli belum menyelesaikan transfer, eh ia juga baper. Iklan berbayar sudah dijalankan dan ditunggu hingga seminggu namun belum berhasil closing, lalu ia baper lagi.

Mas Jaya Setiabudi pernah bilang bahwa menjadi pengusaha tak harus pintar, tapi harus pintar mencari orang pintar.

Sebuah kalimat sederhana yang perlu dipahami secara mendalam. Pengusaha tidak harus menguasai semua hal dalam sebuah bisnis. Pengusaha yang tak piawai membuat produk, maka ia perlu mencari karyawan khusus bagian produksi. Pengusaha yang tak paham menjual produk, maka ia perlu merekrut salesman yang jago. Pengusaha restoran tak harus jago memasak, ia perlu mencari seorang koki yang kompeten untuk bisnisnya.

Jika seorang pengusaha tak paham tentang periklanan berbayar, maka rekrutlah karyawan yang mengerti dinamika periklanan berbayar seperti Facebook Ads, Google Adwords, Instagram Ads dan lainnya. Jika tak mau terbawa perasaan lagi, pengusaha perlu melatih diri mencari calon karyawan berpotensi terbaik dan menyeleksinya.

Ketika iklan sudah berjalan, berlatihlah membaca data yang tertampil dari hasil kampanye iklan. Selain tentunya terus belajar mengenai bagaimana mekanisme alur iklan berbayar dan strategi winning campaign-nya. Jadi, pengusaha sebagai atasan di kantor telah memahami cara kerja sebuah iklan yang menghasilkan penjualan, dan ia dapat mengarahkan karyawan bagian iklan untuk mengevaluasi dan mengatur strategi selanjutnya.

Setiap orang memiliki ciri khas masing-masing. Ada yang mudah belajar coding, kemudian jadi jagoan programming. Ada yang suka menjalin relasi seluas mungkin, lalu ia cocok berprofesi sebagai seorang public relation. Ada pula orang yang suka public speaking, jadilah ia seorang inspirator. Alhasil, seorang pengusaha (muda) pun tak perlu mudah terbawa perasaan karena ia punya pelengkap kekurangannya dan ia adalah pelengkap kekurangan orang lain. Sesederhana itu.

Sebagai catatan penutup, untuk pengingat saya bahwa “kalau masih suka baper, jangan-jangan belum layak jadi pengusaha…”

 

Salam hangat dari Kota Batik,

Muhammad Nurul Hakim
www.HakimJASA.net

* * *

Langganan Artikel

Selain artikel, saya juga membagikan info mengenai edukasi bisnis, pengembangan diri dan penawaran menarik. Masukkan nama dan email Anda di sini.

Powered by Kirim.Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *