Sejauhmana Ketergantungan Kita Terhadap Facebook dan Google?

Teknologi sudah secanggih seperti sekarang ini. Ketika butuh mencari tahu sesuatu, tinggal klak-klik di fitur pencarian Google, atau search engine sejenis, maka informasinya diantarkan langsung ke hadapan kita.

Coba kita perhatikan bahwa Google menguasai hampir seluruh informasi di bumi ini.

Tidak semua informasi, namun hampir seluruhnya ada di Google, kecuali informasi yang tidak kita input ke internet.

Google memiliki cara beragam untuk mengumpulkan informasi ke dalam database mereka. Contoh kecil melalui teknik SEO versi Google. Teknik SEO ditujukan untuk memunculkan artikel yang mengandung kata kunci tertentu di halaman terdepan Google. Teknik SEO membantu sang mesin pencari Google untuk memetakan informasi selengkap mungkin.

Google adalah salah satu solusi bagi pengusaha. Bisa dikatakan, Google menyediakan sistem yang bersifat simbiosis mutualisme. Sang search engine Google diuntungkan dengan masuknya database informasi ke arsipnya, sedangkan sang pelaku usaha yang mempraktekkan teknik SEO diuntungkan juga karena ia berhasil menempatkan bisnisnya di halaman terdepan hasil pencarian Google. Peluang laris bisnisnya semakin tinggi dari hasil pencarian kata kunci yang ia bidik dalam artikel ber-SEO Google.

Popularitas Google semakin bertambah karena semakin banyak orang yang mengisi konten blog dan website dengan artikel berkaidah SEO Google. Semakin tinggi pula lalu lintas internet yang menuju ke Google karena banyaknya orang yang membutuhkan produk tertentu dan mereka bisa menemukan dari hasil pencarian kata kunci tertentu di Google.

Terlebih, saat ini bisnis smartphone Android sudah sangat berdarah-darah. Hampir setiap bulan selalu ada tipe smartphone Android yang baru, dengan spesifikasi yang tidak jauh berbeda antara satu merk dengan merk lain. Persaingan spesifikasi produk dan harga berperan di sini, juga persaingan sisi emosional sebuah brand pun ditonjolkan, apakah penggunanya ingin terlihat smart, keren atau sekedar gengsi bahwa mereka memiliki smartphone merk tertentu. Tergantung angle iklan yang dihadirkan sang merk smartphone bagi calon konsumennya. Iklan yang ada siap disantap oleh konsumen penggila gadget.

Google dan Facebook Menemani Keseharian Kita

Diakui atau tidak, Google sudah membersamai aktifitas keseharian kita. Tanpa Gmail, tanpa Android, tanpa Youtube, tanpa Chrome, atau produk Google yang lain, rasanya ada yang kurang dalam aktifitas kita. Terasa, kan?

Kita terbiasa melakukan aktifitas online menggunakan produk Google. Meski kita menggunakan smartphone selain Android, namun minimal layanan Gmail atau Google Maps juga kita instal di dalam smartphone kita, kan?

Begitu juga dengan media sosial Facebook. Platform satu ini begitu diminati oleh jutaan orang di seluruh penjuru dunia karena keberagaman fasilitasnya yang dianggap solusi yang dibutuhkan atau diinginkan penggunanya. Mark Zuckerberg salah satu anak muda yang jeli melihat keinginan pengguna Facebook. Tak salah jika perkembangan jumlah pengguna Facebook kian menanjak sejak beberapa tahun terakhir.

Jangan lupa juga bahwa Facebook pun berbisnis di layanan trafik dan informasi yang nyaris mendetail. Mirip seperti Google. Bedanya, Google jauh lebih luas dan Facebook lebih mengerucut di ranah media sosial saja. Namun ledakan perkembangan Facebook sepertinya patut diperhitungkan Google. Bila Google sampai lengah, mungkin saja peran mesin pencari Google akan digantikan oleh Facebook. Semua masih mungkin terjadi.

Kembali ke Facebook. Faktanya, Facebook tahu kita ada dimana, Facebook tahu kita menggunakan smartphone tipe apa dan diinstal sistem operasi apa, Facebook tahu kita suka berinteraksi dengan siapa saja, dan banyak hal lain.

Bolehkah jika menyebut Facebook telah membersamai aktifitas keseharian kita seperti Google?

Boleh jadi, aktifitas online kita justru lebih sering dihabiskan di depan layar Facebook daripada Google. Coba cek aktifitas online kita, apakah lebih sering menggunakan fasilitas Google, atau lebih sering mengakses Facebook?

kecanduan-internet-rantai

Facebook menjadi semacam CCTV dalam kehidupan kita.

Masih perlukah bukti bahwa Facebook sedemikian mengerikannya?

Coba gunakan fasilitas Facebook Ads untuk beriklan secara resmi. Kita bisa mengukur sejauhmana dan sedetil apa jangkauan iklan kita.

Dari kota tempat tinggal target market kita, apa gadget yang mereka pakai, apa saja yang mereka sukai, hingga perilaku belanja produk murah atau mewah pun bisa kita bidik menggunakan fasilitas Facebook Ads.

Bila ditelisik dari sisi kita sebagai pengiklan di Facebook, maka kita diuntungkan. Sangat diuntungkan karena database informasi Facebook ternyata sebegitu detail. Namun, jangan lupa juga bahwa informasi sedetil itu bersifat netral. Bisa digunakan untuk kebaikan, juga untuk keburukan tergantung siapa penggunanya.

Pengguna Facebook pada bulan Januari 2014, disebutkan berjumlah 62 juta orang, sedangkan per November 2015 penggunanya bertambah mencapai jumlah 79 juta orang dengan rincian 42% wanita dan 58% pria. Diprediksi per hari ini peningkatan pengguna Facebook sudah melonjak lebih tinggi lagi.

Apakah masuk akal jika Facebook disebut salah satu bisnis spesialisasi di bidang database informasi dan trafik pengguna? Semakin bertambah pengguna Facebook dan meningkatnya interaksi aktif penggunanya dari waktu ke waktu mendongkrak popularitas platform media sosial ini. Sederhananya, seluruh orang di bumi yang biasa menggunakan internet kemungkinan besar tahu apa itu Facebook.

Lepas dari keunggulan Facebook dan Google tadi, coba sekarang kita sedikit bahas mengenai rencana pemerintah untuk memblokir layanan Google, Facebook dan Twitter karena berbisnis di Indonesia namun belum membayar pajak kepada negara.

Data di tekno.kompas.com menyebutkan bahwa Kemenkominfo mencatat perputaran uang iklan digital di Indonesia mencapai 800 juta dollar AS atau setara 10,7 triliun rupiah. Sayangnya, tak satupun dari nilai tersebut yang kena pajak karena adanya celah pada aturan hukum.

Pihak terkait sedang mengusut mengenai transaksi digital yang bergulir di antara ketiga perusahaan raksasa tersebut, karena ketiganya telah membuka kantor representative di Indonesia dan memiliki jumlah pengguna yang sangat besar di tanah air. Menkominfo Rudiantara mengatakan laporan pajak perusahaan internet yang sudah ada di Indonesia akan diawasi lebih ketat.

Sementara kita lepas Twitter terlebih dahulu dari artikel ini karena fokus kita ada di Facebook dan Google saja.

Ada data lain pada tahun 2013 di gadgetan.com menyebutkan bahwa pengguna Android berjumlah 81% pria dan 19% wanita. Rentang usia paling dominan adalah 25-34 tahun (40%) disusul oleh rentang usia 18-24 tahun (34%). Sebagian dari mereka tinggal di daerah perkotaan (54%) dan sisanya di daerah.

Data tersebut menginformasikan kepada kita bahwa kurang lebih sejumlah itulah pengguna Google ada di Indonesia, karena setiap pengguna Android memiliki akses ke Google, betul? Gambaran sederhananya seperti itu.

Dari berita tersebut, coba kita resapi bersama. Sejauhmana kekuatan genggaman Facebook dan Google dalam membantu aktifitas keseharian masyarakat Indonesia? Sejauhmana tingkat ketergantungan kita terhadap produk Facebook dan Google?

Masyarakat kita sudah semakin melek terhadap teknologi. Yang semula tahunya Facebook, kini sudah bisa berbelanja online melalui fitur pencarian Google. Atau, sekarang peningkatannya sudah bisa berjualan melalui social media Facebook, blog dan website yang mengandung kaidah SEO Google.

Masyarakat kita sudah mulai terbiasa berkirim pesan melalui email, terutama Gmail karena sebagian besar dari mereka menggunakan smartphone Android. Penggunaan Gmail untuk tujuan bisnis, memenuhi tugas kuliah, atau mungkin juga untuk tujuan personal lainnya.

Ketika rencana pemblokiran Facebook dan Google jadi dilakukan oleh pemerintah kita, ada dua pertanyaan mendasar yang mungkin bisa kita pertimbangkan:

  1. Apakah kita sudah siap melepas kemelekatan dengan fasilitas yang sudah biasa kita nikmati setiap waktu dari Facebook dan Google?
  2. Apakah SDM Start Up Digital di Indonesia sudah siap untuk bertumbuh-kembang lebih pesat lagi sebagai solusi pengganti Facebook dan Google?

Sebagai penutup, ada satu pertanyaan lagi.
Apakah kita akan menutup mata dan telinga dari segala fenomena ini seakan tidak ada masalah ketergantungan dan potensi masalah lain, ataukah kita berusaha bertindak semampu dan sesuai porsi kita dalam mewujudkan Indonesia jauh lebih baik daripada hari ini?

Lepas dari ketergantungan kita terhadap Google dan Facebook, bukankah kita masih tetap bisa menikmati hidup tanpa keduanya? Bukankah generasi sebelum kita bisa berbahagia dan kaya raya tanpa kehadiran kedua platform tersebut?

Semoga kita bisa berpikir lebih kritis dan beretika lagi. Semoga tulisan singkat ini dapat menstimulasi perjuangan kita. Masa depan Indonesia masih sangat cerah ketika perjuangan anak muda-mudinya seluar biasa kawan-kawan.

Terima kasih.

 

Salam hangat,

Muhammad Nurul Hakim
Penulis www.HakimJASA.net

 

Sumber data:
– https://id.techinasia.com/statistik-pengguna-internet-di-asia-dan-indonesia-slideshow
– https://id.techinasia.com/talk/statistik-pengguna-internet-dan-media-sosial-terbaru-di-indonesia
– http://tekno.kompas.com/read/2016/03/01/11440097/Pemerintah.ke.Google.dan.Facebook.Bayar.Pajak.atau.Diblokir
– http://gadgetan.com/infografis-opera-data-pengguna-mobile-di-indonesia-website-hingga-gadget-terpopuler/48786
Sumber gambar: telset.id

* * *

Langganan Artikel

Selain artikel, saya juga membagikan info mengenai edukasi bisnis, pengembangan diri dan penawaran menarik. Masukkan nama dan email Anda di sini.

Powered by Kirim.Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *