September 16, 2016 hakimjasa 0Comment

Bismillah..

Semoga siapapun yang membaca tulisan ini diberikan kesehatan dan keberlimpahan rezeki oleh Allah, serta bahagia dunia akhirat. Aaamiin. (^_^)

Nah, bicara tentang wirausaha, boleh jadi ada beberapa faktor pendorong yang membuat kita terjun ke dunia usaha.

Misal, dorongan untuk kaya sehingga bisa membeli apapun yang kita inginkan, atau dorongan agar bisa memperbaiki taraf hidup keluarga yang saat ini masih hidup serba pas-pasan, atau dorongan yang lain.

Boleh percaya boleh tidak, dorongan atau motivasi atau bisa disebut niatan untuk terjun berwirausaha bisa menentukan hasil yang kita peroleh di masa depan. Istilah sederhananya kita bisa memperkirakan hasilnya ketika melihat niat awal, meskipun seiring sejalan waktu, niat awal bisa berubah.

Alkisah, ada seorang kawan, sebut saja Widi, seorang gadis muslimah yang berjualan obat herbal untuk kesuburan pasutri. Ia asli Tegal dan sekarang berdomisili di Pekalongan.

Bukan sebuah hal mudah bagi seorang Widi ketika memutuskan untuk berjualan obat herbal bagi pasutri yang mendambakan keturunan. Widi masih single, bagaimana mungkin ia bisa sebegitu larisnya menjual obat herbal kesuburan pasutri? Sebagian orang tentu bertanya-tanya tentang hal tersebut, tak terkecuali saya.

Faktanya, Widi secara konsisten berhasil bertahan dengan usahanya tersebut selama kurang lebih setahun ini. Bukankah itu sebuah prestasi yang spektakuler bagi seorang single? Iya, seorang berstatus single yang belum mencoba produk jualannya sendiri.

Maaf, ini seperti berjualan peti mati. Seorang penjual peti mati, tak harus meninggal duluan, kan? 🙂

Hebatnya, Widi tak patah arang untuk membuktikan kualitas produk yang ia jual. Ia memiliki ide brilian. Ia menghubungi seorang saudarinya yang sudah menikah. Produk herbal kesuburan yang ia jual, disodorkan kepada sang saudari. Alhamdulillah, saudarinya puas dengan produk herbal yang Widi jual. Testimoni kepuasan pun muncul dari sang saudari.

Widi semakin yakin dengan kualitas produk herbal yang ia jual, bahwa ia berada di jalur yang benar. Artinya, seorang gadis bernama Widi berhasil memberikan bukti otentik yang tak terbantahkan, bahwa seseorang tidak harus menggunakan produk yang ia jual.

Jika produk yang dijual bisa digunakan oleh sang penjual terlebih dahulu, itu lebih baik. Serupa dengan istilah orang jawa: ”jarkoni”, bisa mengajar tidak bisa melakoni. Ini tentang cara pandang, dari angle mana kita memposisikan diri.

Awal mula Widi memasarkan produk obat herbal pasutrinya, ia termotivasi untuk menghidupi kebutuhan hidupnya saja. Alhamdulillah, Allah mengabulkan harapannya. Kebutuhan hidupnya tercukupi.

Namun, ketika Widi sadar bahwa ia tidak hidup sendiri. Ada orangtua dan adik kesayangan yang juga menghiasi kesehariannya. Widi memutuskan merubah mindsetnya untuk menghasilkan sebanyak mungkin rupiah agar dapat dinikmati orangtua serta adik kesayangannya. Alhamdulillah, Allah sayang kepada Widi, harapannya dikabulkan langsung oleh Allah.

Akhirnya Widi pun mengakui bahwa ketika kita memiliki niat berwirausaha untuk kebutuhan diri sendiri, hasilnya cukup untuk diri sendiri. Berbeda ketika wirausaha diniatkan untuk membahagiakan orangtua, saudara dan orang-orang yang kita sayangi, hasilnya bisa untuk mereka semua.

motivasi

Subhanallah. Nikmat Allah manalagi yang kita dustakan?

Allah begitu baik dengan kita, sedangkan kita ada dimana ketika Allah memanggil kita melalui seruan Adzan?

Yuk, perbaiki niat wirausaha kita. Semoga berkah Allah selalu dilimpahkanNYA kepada kita sekeluarga. Aaamiin Allahumma Aaamiin.

Mohon tulisan ini jangan dibagikan kecuali benar-benar bermanfaat.

Salam hangat,

M. Nurul Hakim
www.HakimJASA.net

* * *
Sumber gambar: blog.sribu.com

* * *

Langganan Artikel

Selain artikel, saya juga membagikan info mengenai edukasi bisnis, pengembangan diri dan penawaran menarik. Masukkan nama dan email Anda di sini.

Powered by Kirim.Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *