Tragedi Mewabah di Indonesia yang Harus Dibereskan

Tulisan ini saya selesaikan dalam waktu sekitar 3 jam. Semoga artikel ini tidak menggurui dan bermanfaat untuk UKM.

Jadi berawal dari sini.

Ada orang yang sudah menyadari bahwa ia sedang mengalami masalah tertentu, namun ada pula orang yang belum menyadari kalau ia sedang bermasalah.

Alhasil, tipe orang ke-2 tersebut belum menyadari bahwa ia bermasalah, maka secara otomatis ia belum tahu juga jika butuh SOLUSI atas permasalahan yang sedang dihadapi.

Contohnya begini.
Sebutlah ada si A yang berbisnis hijab. Penjualannya menggunakan saluran promosi offline. Tenaga dan waktu yang ia keluarkan sungguh besar.

Ketika si A sedang menjalankan bisnisnya, ia baru sadar bahwa pikiran, waktu dan tenaganya terkuras habis. Bahkan waktu bersama keluarga tersita banyak untuk mengurus bisnis hijabnya tersebut. Istri dan anaknya mulai protes.

Si A berdiskusi dengan kawannya mencari solusi. Sang kawan merekomendasikan agar si A mempelajari cara promosi online. Dari BBM, WA, Facebook, Instagram hingga website.

“Tentang internet marketing, coba cari tahu aja di Google, Bro…”, begitu pesan sang kawan.

Si A mengikuti saran sang kawan. Ia terkaget-kaget begitu mengetahui fakta berdasarkan pengalaman para story teller di Google. Manfaat internet ternyata berdampak nyata pada efisiensi serta efektifitas pikiran, waktu dan tenaga untuk mengurus bisnis. Internet merupakan jalan percepatan bisnis.

“Ini dia SOLUSInya…”, gumam si A.

Di sisi lain ada si B. Ia bisnis mukena secara offline. Ia merasa penjualannya selama ini melalui saluran promosi offline sudah cukup untuk menghidupi keluarganya. Ia punya offline store di beberapa titik di kotanya. Ia hanya menembak area lokal.

Seorang kawan melihat potensi bagus di bisnis mukena si B. Lalu sang kawan merekomendasikan membuat website sebagai sarana promosi online.

“Ini eranya teknologi, Bro. Masak nggak manfaatin internet. Kamu bisa menjual ke kota lain, provinsi lain, bahkan antar negara. Penjualanmu bisa meningkat pesat pakai internet…”, sang kawan memprovokasi si B.

Namun menurut si B begini, “Nggak papa, Bro. Aku gaptek. Lagian tokoku juga sudah buka beberapa cabang di sini. Apa yang aku lakukan selama ini sudah cukup, kok..”

Sang kawan B tak kalah berargumen. Ia menyodorkan fakta bahwa delapan gerai mall Ramayana di Indonesia ditutup dan rencana dua gerai matahari juga akan ditutup akhir September 2017. Bahkan di Amerika, sudah 300 gerai mall ditutup.

Kepada si B, sang kawan menyebutkan sumber sebagai berikut:

  • https://bisnis.tempo.co/read/news/2017/09/01/090905058/Pengusaha-Ritel-Jelaskan-Penyebab-Ramayana-Tutup-Gerai
  • https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170915152126-92-242028/susul-ramayana-matahari-tutup-dua-gerai/
  • https://business.idntimes.com/economy/rosa-folia/mirip-film-zombie-begini-kondisi-mal-di-amerika-yang-tutup-karena-kalah-saing/full

Sang kawan menyampaikan data lain bahwa beberapa tahun terakhir penjualan smartphone begitu meledak di Indonesia. Mengutip dari portal berita kompasdotcom, “Tak kurang dari 366,2 juta unit smartphone terjual sepanjang kuartal kedua 2017. Angka itu meningkat 7,6 persen dari tahun ke tahun.“

Sumber referensi mengenai penjualan smartphone dari laman:

  • http://tekno.kompas.com/read/2017/08/25/18154457/ini-5-vendor-smartphone-dengan-penjualan-tertinggi

Di sisi lain harga paket internet semakin murah dari tahun ke tahun. Salah satu kutipan dari detikdotcom, “Raymond Kosasih, CFA analis dari PT Deutsche Verdhana Sekuritas Indonesia mengatakan bahwa harga paket data di Indonesia berada di harga Rp 14 hingga Rp 23 untuk setiap mega byte (Mb). Padahal di tahun 2011 harga data di Indonesia pernah mencapai Rp 350 per Mb.”

Sumbernya paket internet semakin murah dapat disimak di sini:

  • https://id.techinasia.com/harga-smartphone-semakin-murah-lalu-bagaimana-dengan-paket-data
  • https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20170727183221-213-230802/jual-paket-internet-murah-apakah-operator-untung/
  • https://inet.detik.com/telecommunication/d-3495963/tarif-internet-seluler-di-indonesia-murah-atau-mahal

Banyak orang mulai berjualan melalui saluran online dan sudah merasakan manfaatnya. Banyak pula tokoh seperti Mas Jaya Setiabudi dengan platform toko online Yukbisnis.com, Kang Dewa Eka Prayoga dengan bisnis buku, kursus online dan bisnis terbaru beliau yaitu properti, lalu ada Kang Rendy Saputra dengan sekolah bisnis duakodikartika.com, dan masih banyak pengusaha pemula lainnya seperti misalnya www.LARIZKA.com yang menjual mukena dari Pekalongan telah merasakan manfaat dari optimasi internet untuk bisnis. Akun Instagramnya dapat dipantau di instagram.com/MukenaLarizka.

Namun si B bersikekeuh pada pendiriannya bahwa offline store yang ia bangun masih powerfull untuk menghidupi keluarganya. Sang kawan tak bisa apa-apa. Niatnya membantu si B untuk melesatkan bisnis mukenanya ternyata kandas karena si B tetap teguh pada prinsipnya. It’s OK, namanya hidup tentu saja seseorang boleh membuat keputusannya sendiri.

Nah, orang seperti si B di Indonesia masih banyak. Kemungkinan mereka sudah berada merasakan manfaat dari internet seperti untuk berkomunikasi dengan sanak famili dan rekan bisnisnya, namun ketika disodorkan pada manfaat internet untuk optimasi bisnis kemungkinan awal ditolaknya karena merasa penjualan offline selama ini masih mencukupi kebutuhan bulanan.

Bagaimana saya berani menyatakan bahwa orang seperti tokoh si B dalam kisah di atas masih banyak di Indonesia? Cobalah cari tahu orang-orang terdekat, entah anggota keluarga atau sahabat. Kriteria seperti tokoh si B ada di lingkungan dekat kita.

Pelaku UKM masih belum menyadari bahwa perkembangan teknologi yang sedemikian masif beberapa tahun terakhir ini sangat berdampak terhadap bisnis yang dijalani. Persaingannya sudah bukan lagi antar kampung, antar kota, atau provinsi semata, namun ketika sudah masuk ke internet, artinya persaingannya sudah antar negara, antar benua. Kompetisi global.

Jangan sampai kondisi tersebut menjadi tragedi yang mewabah dan berlarut-larut di Indonesia. Tragedi tersebut memang mulai mewabah, dan harus segera dibereskan.

Problem yang muncul, idealnya bukan lagi berkutat pada perang harga antar UKM yang bisnisnya serupa, atau kekhawatiran jika bisnis tetangga lebih berkembang pesat dibanding bisnisnya, namun problemnya sudah berbeda karena kompetisinya sudah di kancah internasional.

Jika kesadaran tersebut belum teredukasi dengan baik, tentu saja pelaku UKM belum sadar juga bahwa itu sebuah problem yang perlu dibereskan. Otomatis pelaku UKM belum merasa perlu untuk meningkatkan keilmuan mereka.

Namun memang tak semua pelaku UKM harus masuk ke area internet marketing. Justru bisnis offline tetap harus dilestarikan karena beberapa hal hanya didapat ketika berbisnis secara tatap muka, seperti merasakan energi dari calon pembeli, bernegosiasi dalam hal tawar-menawar harga produk dan benefit secara langsung dan banyak manfaat lain.

Internet hanya percepatan bisnis semata. Internet berperan sebagai pelengkap bisnis mengikuti kemajuan teknologi, bukan untuk dinomorsatukan.

Tanpa internet pun, dapat terjadi situasi yang serupa. Ketika pelaku UKM belum menyadari adanya masalah yang membelit dalam bisnisnya, maka kecil kemungkinan ia akan mengupayakan solusi. Logikanya seperti ini, ketika seseorang belum tahu ada masalah, maka bagaimana mungkin ia akan mencari solusi.

Apresiasi yang tinggi saya sampaikan kepada para pelaku UKM yang gigih mengikuti seminar, workshop, pelatihan atau mencari artikel bisnis secara mandiri yang relevan untuk pengembangan bisnis mereka. Artinya mereka telah menyadari adanya masalah, dan mereka sedang mengupayakan solusi terbaik.

Jadi, berdasarkan contoh kisah dan data yang saya sajikan, bagaimana pendapat Anda?

Pekalongan, 17 September 2017 pukul 18:45 WIB
Salam hangat untuk UKM Indonesia,

Muhammad Nurul Hakim
www.HakimJASA.net

____________
Sumber foto:
business dot idntimes dot com

* * *

Langganan Artikel

Selain artikel, saya juga membagikan info mengenai edukasi bisnis, pengembangan diri dan penawaran menarik. Masukkan nama dan email Anda di sini.

Powered by Kirim.Email

3 thoughts on “Tragedi Mewabah di Indonesia yang Harus Dibereskan”

  1. Mas saya jualan aneka keripik, Alhamdulillah offline jalan,tapi kalo on-line kendalanya di pengiriman,nya terlalu mahal di ongkirnya,dan sering remuk sampai disana
    Ada solusi ndak ya,?

    1. InSyaa Allah ada solusi, Mas Fahmy.

      Untuk snack keripik, Mas Fahmy dapat belajar dari Bro Gazan Azka Ghafara, owner Zanana Chips. Produknya keripik pisang.
      Kemungkinan solusi untuk Mas Fahmy ada di packaging.

      Detailnya saya mohon izin melakukan riset dulu, ya, Mas. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *